Tips Aman Bepergian Bersama Lansia: Sepenggal Kisah Perjalanan Surabaya - Bandung
Tahun 2024 tepatnya di bulan Oktober lalu, saya dan Ibu pergi ke Bandung untuk menjenguk kakak perempuan Ibu (bude) yang sedang kritis berjuang melawan penyakit beliau. Qadarullah Januari 2025 bude saya wafat setelah beberapa bulan berjuang di ICU.
Yang menjadi tantangan ketika mengajak Ibu bepergian ke luar kota adalah usia beliau yang sudah memasuki usia sepuh. Kebetulan Ibu sudah berusia 80 tahun lebih dan menderita sakit HNP atau yang biasa disebut dengan saraf terjepit. Selain itu beliau juga terkena osteoarthritis sehingga kaki lebih gampang capek meskipun baru 5 menit berdiri.
Sakit yang diderita Ibu sudah tidak bisa diobati namun apabila mengonsumsi obat pereda nyeri maka bisa berkurang sementara selama beberapa jam. Tentu kondisi Ibu yang sudah tidak prima lagi membuat saya was-was ketika mengajak beliau untuk traveling ke Bandung.
Namun bagaimana lagi, Ibu ingin menjenguk kakak perempuan beliau yang satu-satunya masih hidup. Jika Bude saya meninggal, maka Ibu saya adalah satu-satunya anggota keluarga besar yang paling sepuh dan masih hidup.
Daripada saya menyesal tidak bisa mempertemukan Ibu dengan kakak kandung beliau yang terakhir kali, maka saya pun nekat membawa Ibu bepergian naik kereta api ke Bandung.
Kali ini perjalanan menggunakan kereta api eksekutif Turangga dari stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Bandung. Sengaja saya memilih kereta api eksekutif dengan harapan lebih cepat sampai ke kota tujuan. Selain itu kereta api eksekutif tentu memberikan rasa nyaman bagi penumpang, tak terkecuali untuk lansia.
Tidak apa-apa membayar sedikit lebih mahal, asal Ibu saya tetap nyaman dan aman sepanjang perjalanan menuju Bandung.
Ternyata memang ketika harus bepergian bersama lansia, saya harus banyak memperhatikan detail kebutuhan Ibu. Kalau bisa jangan sampai ada perlengkapan yang tertinggal, mulai dari pakaian, obat-obatan hingga alat batu berjalan yaitu tongkat dengan mata 3 yang selama ini menemani Ibu melakukan aktivitas di rumah.
Saya bersyukur sekali stasiun kereta api di Indonesia sudah sangat ramah untuk lansia. Ada kursi roda yang bisa digunakan oleh Ibu saya ketika kami sampai di stasiun Gubeng sehingga Ibu tak kesulitan dan kelelahan untuk berjalan menuju keberangkatan kereta.
Saya pun memutuskan untuk menggunakan jasa porter di Stasiun Gubeng dan juga Stasiun Bandung dimana mereka bertugas untuk mendorong kursi roda Ibu dan juga membawa ransel berisi pakaian.
Selain fasilitas kursi roda, Ibu juga merasa sangat terbantu dengan adanya toilet untuk disabilitas. Karena kami akan menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam, tentu kebutuhan untuk buang air kecil selalu ada. Akhirnya Ibu memutuskan untuk buang air kecil terlebih dahulu sebelum naik ke kereta api.
Saya rasa keputusan yang tepat mengingat beliau harus berhati-hati apabila harus pergi ke toilet di dalam kereta api yang tidak terlalu luas.
Lansia Tetap Boleh Bepergian, Berikut Tips Amannya
Meskipun pada beberapa orang lansia sudah mulai menurun kesehatannya, tapi bukan hal yang mustahil bagi mereka untuk tetap bisa melakukan perjalanan jauh. Contohnya Ibu saya dimana beliau akhirnya bisa melakukan perjalanan jauh selama kurang lebih 2 hari ke kota Bandung. Alhamdulillah kembali ke Surabaya dalam kondisi sehat juga.
Ada beberapa tips yang mungkin bisa saya bagikan jika kalian ingin mengajak orang tua yang sudah sepuh untuk melakukan perjalanan jauh, yaitu:
1. Membawa obat-obatan sesuai kebutuhan
Karena saya sudah tahu penyakit yang diderita ibu, maka tidak sulit membawa segala obat-obatan beliau. Yang pasti harus ada obat pereda nyeri dan obat saraf. Lalu salep Hottin DCL (ini bukan promosi) tidak lupa saya bawa sampai 2 tube karena Ibu kalau sudah sakit kaki dan pinggang, hanya bisa terobati sesaat menggunakan salep tersebut.
Namun sebagai manusia, pasti ada lupanya ya gaes sehingga ketika berada di Bandung pun saya terlewat membawa obat alergi kalau tidak salah. Untungnya rumah sakit tempat Bude saya dirawat cukup strategis yaitu di Rumah Sakit Santo Borromeus, sehingga untuk mencari apotek terdekat pun tidak sulit.
Ketika Ibu mengeluh badan beliau gatal-gatal sembari duduk menunggu jam besuk di ICU, saya pun langsung bergegas keluar rumah sakit dan memesan ojek online menuju apotek terdekat membeli obat alergi. Mungkin Ibu kurang cocok dengan hawa di Bandung yang cenderung dingin sehingga alergi.
Untungnya sekarang zaman makin canggih sehingga ketika bepergian pun saya tidak kaget manakala harus mengalami hal-hal emergency. Kita bisa pergi menggunakan ojek online ke toko yang hendak dituju untuk membeli kebutuhan darurat tersebut.
Kalaupun misalnya kesulitan untuk ke luar dari sebuah lokasi, kita bisa memesan layanan antar kok. Namun saya sengaja pergi ke apotek terdekat karena saya tidak tahu jika harus pesan antar obat, ketemu kurirnya dimana. Maklum saja, saya tidak familiar dengan Rumah Sakit Santo Borromeus sehingga tidak tega dengan kurirnya jika harus kesulitan mencari titik antar dalam upaya mengantar pesanan saya.
2. Bawa pakaian ganti yang nyaman
Ketika packing di rumah, saya selalu mengingatkan Ibu untuk membawa pakaian yang mudah digunakan. Bersyukur Ibu mendengar saran saya. Ibu tidak menggunakan gamis namun menggunakan celana panjang dan kemeja lengan panjang. Takutnya kalau pakai gamis malah "kesrimpet".
Demi keamanan beliau, saya pun meminta Ibu menggunakan pampers agar tidak sulit ketika sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Popok celana memang mau tidak mau harus menjadi stok seorang lansia meskipun di rumah saja.
Ibu juga membawa sweater agar tidak kedinginan selama perjalanan. Beruntung sekali ketika naik kereta api eksekutif, seluruh penumpang akan mendapat fasilitas selimut gratis apabila melakukan perjalanan di atas pukul 18.00.
Kebetulan saya dan Ibu naik kereta api Turangga di pukul 20.00 sehingga otomatis mendapat fasilitas selimut gratis.
3. Booking penginapan yang strategis
Apabila bepergian bersama lansia tidak menginap di rumah saudara, maka pastikan kalian booking penginapan yang strategis.
Meskipun saya dan Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, namun kami tetap harus tidur di penginapan ketika malam hari tiba. Sengaja saya dan ibu tidak menginap di rumah sepupu yaitu anak dari Bude, karena kebetulan lokasinya cukup jauh dari rumah sakit.
Bude memang dirawat di ICU sehingga jam besuk hanya boleh di pukul 17.00-18.00 WIB. Namun tidak mungkin Ibu saya menghabiskan waktu hanya satu jam saja di rumah sakit. Karena kebetulan ruang tunggu keluarga yang dirawat di ICU Rumah Sakit Santo Borromeus cukup nyaman akhirnya saya berinisiatif mengajak ibu untuk menunggu Bude di ruang tunggu saja selama kurang lebih 6 jam.
Ibu saya pun masih bisa selonjoran di salah satu bilik yang disediakan Rumah Sakit Santo Borromeus untuk para keluarga pasien. Tentunya selama bilik kosong, maka anggota keluarga yang menunggu pasien bisa menggunakannya.
Kembali ke masalah penginapan dimana akhirnya saya memutuskan reservasi di Daun Residence, sebuah penginapan yang berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda 126 Bandung. Jarak Daun Residence ke Rumah Sakit Santo Borromeus tidak sampai 2 kilometer, cukup dekat bukan?
Alasan saya menginap di Daun Residence adalah karena jaraknya cukup dekat dengan rumah sakit dimana Bude dirawat. Selain itu juga Daun Residence strategis karena terletak di pinggir jalan raya sehingga ketika kami hendak ke stasiun Bandung untuk pulang pun, taksi Bluebird akan dengan mudah mencari alamatnya.
Memang sih Daun Residence sudah ada di Google Maps sehingga mudah ditemukan juga. Untuk area parkir di Daun Residence memang tidak terlalu besar, mungkin cukup untuk 3 mobil saja.
Ohya, semenjak fisik Ibu sudah mulai melemah dikarenakan sakit saraf terjepit dan osteoarthritis, maka ketika bepergian saya cenderung menggunakan taksi Bluebird. Ini bukan flexing namun lebih dikarenakan pelayanan yang cukup bagus terutama untuk lansia.
Sopir taxi Bluebird akan selalu turun membukakan pintu untuk penumpangnya dan saya merasa cukup penting ketika membukakan pintu untuk Ibu sementara saya masih sibuk menaruh ransel dan barang bawaan lainnya di bagasi atau kursi penumpang misalnya.
Lagi-lagi ini bukan endorse, namun penggunaan transportasi online untuk lansia ternyata begitu penting. Terkadang ada sopir taksi online yang cenderung terburu-buru sementara mereka tidak tahu bahwa penumpangnya adalah lansia.
Tidak semua sopir taksi online begitu ya gaes, namun beberapa saja. Ya mungkin mereka juga lelah karena sudah seharian bekerja.
Lansia yang tidak kuat jalan jauh atau berdiri lama memang disarankan menggunakan kursi roda. Namun membawa kursi roda ketika perjalanan menggunakan kereta api dan pesawat memang cukup ribet. Kecuali kalian pergi menggunakan mobil pribadi maka kursi roda bisa ditaruh di bagasi.
Bersyukurnya Ibu saya pergi ke Bandung dengan tujuan menjenguk saudara di rumah sakit sehingga tentu saja di rumah sakit ada banyak kursi roda yang bisa dipakai Ibu. Kalau tidak ada kursi roda, mungkin Ibu saya sudah merasa kesakitan sepanjang jalan menuju ICU.
Kami kembali setelah 2 hari berada di Bandung menggunakan kereta api Argo Wilis. Kali ini perjalanan pulang lebih cepat satu jam dan Alhamdulillah kondisi Ibu masih kuat ketika perjalanan pulang.
Demikian cerita perjalanan singkat saya ke Bandung menggunakan kereta api bersama Ibu yang sudah sepuh dalam rangka menjenguk saudara.
Semoga bermanfaat.



Posting Komentar untuk "Tips Aman Bepergian Bersama Lansia: Sepenggal Kisah Perjalanan Surabaya - Bandung"