Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sehari di Alun-Alun Jombang, Perginya Naik Kereta Komuter

 


Bingung mau ngapain pas di hari libur suami, akhirnya kami memutuskan untuk coba naik kereta komuter ke Jombang. Sudah setahun yang lalu juga sih pengalaman jalan-jalannya namun baru sempat saya tulis sekarang.

Awalnya penasaran saja, bagaimana rasanya naik kereta komuter dengan harga tiket Rp 12.000 dengan jarak tempuh perjalanan kurang lebih sekitar 2 jam. Tentu pengalaman unik yang bisa saya ceritakan.

Kami berdua berangkat dari Stasiun kareta api Wonokromo dalam rangka perjalanan ke Jombang. Tiket kereta api sudah dibeli melalui aplikasi KAI Access dan kalau tidak salah jam keberangkatan yaitu jam 8.55 WIB.

Saya sih sudah tidak kaget dengan tempat duduk kereta komuter yang berhadap-hadapan bersama 3 penumpang lainnya. Jadi saya dan suami mendapat tempat duduk, dua penumpang saling berhadapan dengan dua penumpang lainnya.

Nah, kebetulan dua penumpang lainnya adalah pasangan suami istri berusia sekitar 60 tahunan yang hendak ke Mojokerto kalau tidak salah ya. Saya juga kurang mendengar karena asyik melihat ke arah jendela. 

Naik kereta api itu memang paling bagus kalau saya sih pagi hari di saat kita bisa melihat masyarakat sedang beraktivitas dan melihat lalu lalang kendaraan.

Setelah sampai di kota Jombang, saya dan suami pun bergegas ke luar stasiun dan menuju Alun-alun. Saya pernah datang ke kota Jombang di tahun 2019 sehingga tidak kaget dengan stasiun Jombang. Waktu itu saya pergi berkunjung ke rumah teman semasa kuliah S2 di Universitas Dr. Soetomo..

Kami berdua menyeberang ke arah Alun-alun kota Jombang. Harap berhati-hati kalau ingin menyeberang ya sebab karena jalan raya maka banyak truk dan kendaraan yang melaju cukup kencang.

Sesampainya di Alun-alun Jombang, saya segera mengajak suami ke mesjid sebentar. Entah kenapa ketika di kereta komuter,  mendadak perut saya mules dan wajib segera ke toilet, wkwkwk.

Masjid yang kami datangi bernama Masjid Agung Baitul Mukminin. Untungnya toilet dapat saya temukan dengan mudah dan langsung saja saya masuk ke dalam karena sudah enggak kuat lagi.

Alhamdulillah, setelah urusan sakit mules selesai saya segera ke luar menghampiri suami yang berdiri di pagar masjid. Dia tidak enak untuk masuk atau duduk di pinggir masjid karena sedang ada acara.

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan sejenak mengelilingi alun-alun kota Jombang. Sebenarnya alun-alunnya sendiri tuh tidak luas banget namun kalau mau olahraga, cocoklah untuk dikelilingi demi mendapatkan 10.000 langkah kaki. Untungnya saya memakai sepatu kets sehingga tidak lelah ketika mengelilingi alun-alun Kota Jombang.

Pedangan kuliner sudah tidak diragukan lagi keberadaannya di alun-alun tersebut. Namun kami belum merasa lapar sehingga tidak membeli. Akhirnya kami menemukan spot duduk yang cukup strategis, meskipun ternyata cukup panas juga karena langsung terpapar sinar matahari.

Saya dan suami sempat beberapa kali bergeser temapat duduk demi menghindari silaunya sinar matahari. 

Dan ternyata di dalam lapangan alun-alun Jombang ada playground untuk bermain anak-anak lho! Pas kami ke sana, ada banyak anak TK yang sedang bermain di playground tersebut. Bahkan ketika kami balik ke Surabaya untuk naik kereta komuter, kami berada di gerbong yang sama dengan rombongan murid Taman Kanak-Kanak tersebut. Ternyata mereka merupakan murid dari sebuah TK di Mojokerto.

Saya yakin ketika weekend, alun-alun Jombang ini akan terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Sebab kami pergi ke Alun-alun Jombang di saat jam kerja jadi tidak terlalu ramai. Selain itu strategi saya juga memilih hari kerja agar bisa menikmati suasana tenang dan nyaman ketika duduk di alun-alun.

Ohya, kami sempat membeli corn dog ala-ala untuk nyemil selama duduk santai di alun-alun. Kebetulan ada pedangan asongan yang berkeliling untuk menawarkan dagangan mereka. Dengan harga sepuluh ribu rupiah saja, kami bisa menikmati corn dog ala-ala sebelum waktu makan siang tiba. 

Nah, di saat jam menunjukkan pukul 12.30 dimana sudah waktunya makan siang, saya bilang ke suami kalau tidak mau makan kuliner yang dijual di sepanjang alun-alun. Saya ingin coba menyusuri jalan KH. Ahmad Dahlan dan kepo dengan banyaknya penjual makanan serta minuman yang mangkal di trotoar SMP Negeri 2 Jombang.

Jadi sebelum kami memutuskan unduk duduk-duduk di alun-alun, kami sebenarnya sudah survey dulu. Kami lihat dari kejauhan kalau ada banyak pedagang kaki lima yang berada di trotoar jalan KH. Ahmad Dahlan. Kalau tidak percaya, coba kalian lihat tangkapan layar di Google Map berikut deh, wkwkwk.



Benar saja dugaan saya, ketika sudah sampai di Jalan KH. Ahmad Dahlan, waduduuuu.... saya sampai bingung mau beli makan apa nih di sana, saking banyaknya kuliner. Akhirnya saya memutuskan untuk makan di salah satu kedai fried chicken lokal Jombang. Namanya Chickenesia. 

Begitu selesai makan di Chickenesia, saya dan suami duduk-duduk sebentar sambil mengamati beragam pedagang kaki lima yang mangkal. Benar dugaan saya, para pedagang kaki lima menjadikan momen istirahat anak sekolah sebagai momen mendulung rezeki karena para siswa mayoritas jajan di luar.

Akhirnya kami pun selesai makan dan membayar pesanan, lalu berencana ke stasiun kereta api karena jadwal kereta sudah hampir dekat. Namun di tengah perjalanan, saya menyesal karena ada penjual nasi pecel yang mangkal di pinggir trotoar dan pengen beli nih ceritanya. Cuma apa daya, perut sudah kenyang banget.

Waktu hendak kembali ke stasiun Jombang pun, saya sempat-sempatnya beli pentol bakar dan dibawa pulang untuk dicemil di rumah.

Sebelum ke stasiun, suami sholat dhuhur terlebih dahulu di Masjid Agung Baitul Mukminin. Kebetulan saya sedang mendapat halangan sehingga tidak sholat. 

Setelah suami sholat, kami sempatkan berfoto-foto dulu di depan tulisan Alun-alun Jombang. Sayang, ada beberapa yang sudah terhapus dan tidak saya simpan. 

Sesampainya di stasiun Jombang, suami mengajak nongkrong sebentar di California Fried Chicken (CFC). Dia ingin nyemil chicken strips katanya, wkwkkw.Ampuun deh, masih sempat-sempatnya makan di CFC ya. Kalau saya sih masih kenyang jadi ya minum kopinya CFC saja.

Stasiun kereta api Jombang sendiri menurut saya sudah sangat modern karena ada banyak outlet yang menjual kuliner dan oleh-oleh. Bahkana da Alfamart sebagai mini market yang menyediakan aneka jajanan dan keperluan yang bisa dibeli sewaktu-waktu oleh penumpang apabila membutuhkan.

Penutup

Demikian cerita perjalanan singkat saya ke Jombang selama satu hari. Jalan-jalan sederhana yang membuat saya kangen untuk kembali lagi, terutama ingin mencicipi aneka kuliner di samping trotoar Jalan KH. Ahmad Dahlan

Hanya dengan 12ribu rupiah saja, kalian sudah bisa pergi jalan-jalan ke Jombang dengan menggunakan kereta komuter. 


Posting Komentar untuk "Sehari di Alun-Alun Jombang, Perginya Naik Kereta Komuter"