Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kaleidoskop 2021: Ada Tawa dan Sedih

 

Tak terasa penghujung 2022 sudah di ambang pintu kehidupan kita. Saya merasa sedikit deg degan nih menjalani kenyataan tersebut. Walau belum menjalaninya, tapi teringat dengan banyak hal di tahun 2021 sangatlah membuat sedikit was-was. Ada kalanya seorang manusia belum bisa move on dari banyak peristiwa di tahun sebelumnya.

Terus terang, tahun 2020 dan 2021 ini seperti roket yang melesat. Pergerakannya cepat sekali dan tiba-tiba kita sudah berada di tahun 2022. Saya pun tidak menyadari hal itu, lantas seperti sudah disuguhkan hidangan di awal tahun, yang saya sendiri tidak tahu rasa dan aromanya.

Baiklah, saya ingin sedikit mengulas tahun 2021 yang sepertinya banyak kenangan nano nanonya. Ada manis, asam, pedas dan asin. Kalau manis, pedas dan asin sepertinya menjadi rasa kesukaan saya. Tapi saya tidak suka asam, walau tetap harus mencecap rasa itu ya saya paksa juga.

Tahun 2021: Ketika Covid-19 Masih Melanda Dunia

Dibilang senang ya kurang pas juga, manakala kantor tiba-tiba banjir orderan karena permintaan disinfektan yang tinggi akibat masih tingginya kasus Covid-19. Tahu sendiri kan, bulan Juni sampai Agustus 2021 kalau tidak salah kasus Covid-19 naik kembali. Walau di kantor banjir orderan semprot disinfektan, namun ada dua orang karyawan yang terpapar Covid-19. Artinya perusahaan yang melayani jasa penyemprotan disinfektan pun, tidak menjamin karyawannya bebasa virus ini. Bersyukur akhirnya dua karyawan itu dapat sembuh dan mulai bekerja seperti biasa.

Kalau ditanya apa tawa dan sedih yang saya rasakan ketika menjalani hidup di tahun 2021 adalah:
  • Bahagia karena karir ngeblog sudah mulai dikenal oleh beberapa agency
Bersyukur sekali karena pandemi membawa hikmah berkepanjangan bagi saya pribadi. Saya masih ingat tanggal-tanggal dimana saya dan suami berjuang menjalani dampak Corona. Memang tidak separah orang lain yang sampai di-PHK, suami saya masih bisa bekerja kembali setelah kondisi mulai normal akibat dicabutkan keputusan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. 

Demi membantu keuangan keluarga, saya rela mengurangi jam tidur dan istirahat agar bisa mengikuti kelas-kelas blog dan juga menerima job menulis. Mungkin bagi sebagian orang, fee dari menulis ini tidak seberapa namun bagi saya ini adalah suatu pengalaman luar biasa.

Dari tahun 2019 saya membuat blog pribadi, lalu mengembangkannya tahun 2020 sampai akhirnya berapa di penghujung 2021 ini seperti bermain roller coaster saja. Terasa capek, lelah hati dan pikiran namun saya menikmati proses itu. 
  • Masih suka khawatir akan pekerjaan suami yang sempat dirumahkan
Tahun 2021 saya bersyukur karena suami mulai normal bekerja di bidang transportasi udara. Walau gaji yang diterima mengalami penyesuaian tapi saya tetap bersyukur. Warung sembako kami juga tetap dijalankan meski suami sudah bekerja, karena bagi saya warung sembako ini adalah perjuangan kami berdua ketika dia dirumahkan.

Rasanya seperti habis manis sepah dibuang, jika saya harus menutup warung sembako di saat suami saya mulai bekerja kembali. Saya bertekad warung sembako yang kami jalankan ini akan terus ada sampai salah satu di antara kami dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Tidak dipungkiri, masih ada rasa trauma ketika tahun 2020 suami dirumahkan dan tidak mendapat gaji. Apalagi kami menanggung biaya dua ibu kami masing-masing sehingga terasa berat jika saya harus bekerja seorang diri. Ternyata Allah SWT memang sayang kepada kami berdua, sehingga selalu ada jalan rezeki untuk kami berdua.
  • Mulai merasa tidak nyaman dengan pekerjaan saya di kantor
10 tahun bekerja di kantor yang sekarang ini membuat banyak konflik kepentingan menghampiri diri saya. Saya merasa tidak nyaman apalagi diri ini seolah dianggap sebagai ujung tombak yang menyelesaikan masalah di kantor. Sementara ada dua orang karyawan yang bekerja di kantor adalah saudara dari pemilik perusahaan. Rasanya saya makin kecewa saja dengan cara kerja yang tidak profesional itu.

Ketidaknyamanan bekerja kalah akan kebutuhan akan uang. Itulah saya. Meski saya seorang perempuan yang tidak wajib mencari nafkah, tapi ada rasa takut juga apabila memberanikan resign sementara belum punya bekal apapun.

Saya tidak ingin gegabah dengan cara melarikan diri. Berusaha mencari pekerjaan baru mungkin solusi untuk saat ini. Dan semoga Allah SWT bisa memberi jalan keluar bagi saya. Aamiin.

Posting Komentar untuk "Kaleidoskop 2021: Ada Tawa dan Sedih"